tentang rekrutmen guru…

Sikapi semuanya dengan hati yang lapang dan dingin

 

Kemarin (saya lupa berapa hari yang lalu tepatnya), ada berita yang memancing agak banyak reaksi dari teman-teman guru. Dalam berita itu disebutkan bahwa

… persyaratan yang akan diterapkan tahun depan adalah dokumen atau ijazah kelulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG)…

Dalam lanjutan berita tersebut, dijelaskan bahwa semua sarjana (dari semua jurusan/fakultas) dapat menjadi guru (baik itu guru PNS maupun guru non-PNS), asalkan telah memperoleh dokumen yang menyatakan bahwa sarjana bersangkutan telah menempuh dan lulus Pendidikan Profesi Guru.

Ini yang kurang dapat diterima oleh teman-teman sarjana FKIP. “Aturan ini sangat merugikan sarjana FKIP…!” kata mereka. “…nanti kami harus kerja di mana?”

Yang pro dengan aturan tersebut langsung meng-counter dengan mengutip pernyataan Pak Nuh, bahwa “… jika kemampuan sarjana FKIP jauh di bawah sarjana fakultas lainnya, tentu tidak bisa dipaksakan mengajar.

Saya hanya diam saja mengikuti diskusi yang agak ‘hangat’ itu. Walaupun sebetulnya, saya cenderung berpihak pada yang pro (wajar lah, la wong S1 saya di ITS😀 )

Saya jadi teringat cerita seorang sesepuh di Dikmenjur… Di Jerman, pada tahun 80-an, jurusan pedagogi dihapuskan atau dilikuidasi, karena mereka membangun sistem rekrutmen guru dimana seorang calon guru harus menguasai ilmu aslinya dulu, baru nanti belajar ilmu pedagogi. Setelah selesai belajar pedagogi, para calon guru harus praktek selama 2 tahun. Kalau lulus dan ada lowongan, baru lah yang bersangkutan diterima sebagai guru di sekolah yang benar-benar membutuhkan.

Saya juga ingat pengalaman pribadi… Di Australia (dan negara-negara persemakmuran lainnya), berlaku sistem rekrutmen guru yang mirip seperti yang diterapkan di Jerman tersebut. Untuk menjadi seorang guru (di Australia), seseorang harus memiliki setidaknya 2 sertifikat, yaitu Certificate III yang menyatakan bahwa orang tersebut benar-benar kompeten di bidangnya dan Certificate IV-Training and Assessment yang menyatakan bahwa orang tersebut telah menempuh pendidikan keguruan. Kalau sudah punya 2 hal itu, maka boleh melamar jadi guru. Demikian kata instruktur saya waktu itu.

Nah… Mungkin, kita sedang membangun sistem seperti yang telah diterapkan di 2 tempat tersebut (Jerman dan Australia). Jadi, bersabarlah… Kalau Anda saat ini sedang kuliah di FKIP, tidak perlu takut dengan aturan baru rekrutmen guru ini. Tunjukkan bahwa Anda memang layak menjadi seorang guru. Kalau Anda tidak pede, bukankah itu artinya Anda sudah Kalah sebelum Perang? Yah, kalaupun kemungkinan terburuk yang terjadi (tidak dapat menjadi guru), toh… banyak teman saya yang dulu kuliah di Unesa sekarang kerja di bank dan industri. Untuk setiap insan sudah ada ketetapan rejekinya, kan?

Sedangkan buat Anda yang saat ini sedang kuliah di jurusan bukan FKIP dan ingin menjadi seorang guru karena ingin ikut meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia… SEMANGAT!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s