solidaritas dalam ujian

jawabannya apa sih

jawabannya apa sih

Lebih dari seminggu, saya tidak dapat meng-update blog ini. Bukan karena kekurangan ide atau tidak ada koneksi internet, namun kesibukan yang menjadi penyebabnya. Tanggal 15 s.d. 20 Oktober kemarin, SMKN 1 Panji menyelenggarakan Ujian Tengah Semester Ganjil, dan saya menjadi salah satu pengawas ruang. Selepas mengawasi pelaksanaan ujian, saya masih harus mengoreksi lembar jawaban anak-anak (essay, sehingga agak lambat memeriksanya). Sampai sekarang kerjaan ini masih belum selesai karena banyak terpotong untuk bermain dengan Ghazi, anak saya ^-^

tas ditaruh di depan

tas ditaruh di depan

OK… Ada satu hal yang saya amati selama pelaksanaan UTS kemarin. Ternyata, anak-anak itu banyak yang tidak pe-de dengan jawaban mereka sendiri. Dan, kerja sama di antara mereka itu sudah sangat kompak. Banyak sekali kasus yang saya temui dimana ada beberapa siswa yang Lembar Jawabannya kosong bersih sampai 15 menit menjelang usai, namun mengumpulkan lembar jawaban yang sudah lengkap.

Ini tidak baik. Karena penasaran, saya bertanya pada beberapa anak setelah ujian.

“Kenapa kamu bekerja sama waktu ujian?”

Sebagian besar menjawab karena solidaritas. Kasihan, kalau temannya dapat nilai kecil. Dan, kalau mereka tidak membantu, memberikan jawaban, maka mereka akan disingkiri, disisihkan oleh teman-teman sekelasnya dan mendapat cap sebagai orang kikir.

Saya jadi bertanya-tanya… Apa sih, artinya solidaritas itu? Kok, sepertinya, semua-mua jadi sah dilakukan atas nama solidaritas?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, solidaritas adalah sebuah kata benda yang berarti perasaan solider, satu rasa (senasib sepenanggungan), dan perasaan setia kawan.

Namun, dalam ujian (yang merupakan bagian dari sebuah sistem kompetisi), apakah solidaritas ini harus ada? Kalau menurut anak-anak saya, iya😀

Trus, bagaimana menilai siapa yang terbaik jika semua mendapatkan nilai yang sama karena jawabannya sama persis, bahkan sampai ke titik koma? Bingung kan? Padahal ujian itu menghabiskan dana yang banyak sekali lho… Biaya ATK, konsumsi pengawas, HR pengawas, dsb. Kan, sayang sekali kalau ternyata tidak mencapai hasil yang diinginkan.

Mungkin, sudah waktunya kita menghapuskan sistem ujian ya.. ^-^

One thought on “solidaritas dalam ujian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s